Hazel melempar ponselnya ke atas kasur setelah membalas pesan terakhir di grup. Sambil menghela napas lelah, dia menyambar handuk dan bergegas masuk ke kamar mandi. Keramas di tengah malam sebenarnya bukan ide yang bagus, tapi bau dari luar yang menempel di rambutnya benar-benar membuat Hazel tidak nyaman.
Dua puluh menit kemudian, Hazel keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam kebesaran dan celana pendek. Rambutnya masih basah kuyup, meneteskan air yang membasahi pundak kaosnya. Matanya sudah setengah tertutup karena kantuk yang luar biasa mulai menyerang.
Tanpa memperdulikan rambutnya yang masih basah, Hazel langsung menjatuhkan dirinya secara tengkurap ke atas kasur, siap menjemput mimpi.
Namun, belum sempat matanya terpejam sepenuhnya, kasur di sebelahnya bergerak. Sebuah tangan panjang tiba-tiba menarik kerah belakang kaosnya, memaksa Hazel untuk duduk tegak kembali.
"Bangun. Keringin dulu rambut lo."
Hazel membuka matanya dengan susah payah, mendapati Diksa sudah berdiri di depannya sambil memegang handuk kecil dan sebuah hair dryer di tangan satunya. Cowok itu sendiri sudah rapi memakai baju tidur, menyebabkan aroma sabun mahal yang menenangkan.
"Ngantuk, Diksaaa..." gumam Hazel serak, hendak merebahkan badannya lagi, tapi pundaknya langsung ditahan oleh telapak tangan Diksa yang kokoh.
"Bangun dulu zel nanti lo sakit." sahut Diksa tenang, namun nadanya tidak menerima bantahan.
Hazel mendengus keras. Dengan gerakan super lambat dan penuh drama, dia akhirnya menegakkan punggungnya. Matanya merem-melek, dan kepalanya terkantuk-kantuk ke depan kayak pajangan dashboard mobil yang goyang-goyang.
Dengan telaten Diksa menaruh handuk kecil di atas kepala Hazel, lalu menyalakan hair dryer. Suara dengung rendah langsung memenuhi kamar yang senyap. Jari-jari panjang Diksa mulai bergerak menyusup di antara helaian rambut hitam Hazel yang basah, mengacaknya dengan ritme konstan yang justru terasa seperti pijatan nyaman.
Hazel makin memejamkan matanya. Kepalanya bener-bener gak bisa tegak, berkali-kali nyaris jatuh ke depan ke arah perut Diksa yang lagi berdiri di hadapannya.
Suara dengung hairdryer perlahan beralih fungsi jadi gelombang suara yang meninabobokan. Kepala Hazel makin berat, pasrah pas jemari Diksa yang panjang dan besar mengacak pelan rambutnya. Detik berikutnya, dahi Hazel bener-bener gak sengaja nyender di perut rata Diksa yang lagi berdiri di depannya.Bukannya menjauh, Diksa malah sengaja menahan posisi itu.
Klik.
Suara hairdryer dimatikan mendadak. Kamar langsung sunyi, menyisakan deru napas mereka berdua yang terdengar jelas.Diksa nurunin tangannya ke tengkuk Hazel, meremasnya pelan seolah lagi melunakkan kucing peliharaan yang liar. "Tadi ngerokok lagi?"
Pertanyaan itu meluncur santai, tapi nadanya rendah dan penuh penekanan.
Hazel yang tadinya udah 99% melayang ke alam mimpi langsung ditarik paksa balik ke realita. Matanya otomatis melek lebar. Efek kejutnya bikin Hazel langsung menegakkan punggung, menatap Diksa dengan raut muka panik yang kentara banget.
"HAH... ng—ngga!" jawab Hazel terbata-bata. Jantungnya tiba-tiba marathon. "Kagak ada ya! Sok tau lo!"
Diksa gak langsung nyaut. Dia cuma taruh hairdryer ke atas nakas dengan gerakan tenang terlalu tenang sampai bikin Hazel merinding sendiri.
"Nggak?" Diksa menaikkan sebelah alisnya. Matanya menyipit penuh selidik. "Terus kenapa dari pas lo nyerahin jaket tadi, ada bau tembakau tipis di baju lo?"
"Itu... bau anak-anak! Kan si Pram sama Nolan ngerokoknya kek kereta api, ya jelas nempel di gue lah!" Hazel membela diri berapi-api, tangannya bergerak heboh buat meyakinkan.
Diksa malah senyum tipis. Tipe senyuman menyebalkan yang selalu sukses memicu darah tinggi Hazel.
"Oh, ya?" Diksa memajukan wajahnya. Dekat banget, sampai Hazel bisa mencium aroma mint dari napas Diksa dan wangi sabun mahalnya yang mengintimidasi. "Sini coba gue cek sendiri."
"Cek apaan sih anjing, Dik, lo mau ngapain"
Diksa gak dengerin. Dia makin memajukan wajahnya, menunduk sampai hidung mereka hampir bersentuhan. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Hazel yang bergerak gelisah, sebelum pandangannya turun ke bibir Hazel yang kemerahan.
"Minggu lalu lo baru sembuh dari radang, sekarang udah nakal lagi. Mau dihukum apa, hm?"
Hazel menelan ludah berat. Matanya melotot galak, mencoba menutupi rasa gugupnya yang luar biasa. "Hukum matamu sempal! Lepas gak?!”
"Gak mau." Diksa justru makin merapatkan tubuhnya, mengikis jarak sampai Hazel bisa merasakan kehangatan dada Diksa yang bidang. "Hukumannya... gue habisin napas lo malam ini, biar besok lo gak ada tenaga buat hisap rokok lagi lagi."
"DIKSAAAA ANJI—"
Makian Hazel langsung tertelan bulat-bulat waktu Diksa membungkam bibirnya tanpa permisi.
"Diksa, jangan mulai deh..." Hazel berusaha mendorong dada Diksa, tapi sialnya, cengkeraman tangan cowok itu di pundaknya sama sekali gak bergeser. Dada Diksa keras, kontras banget sama telapak tangan Hazel yang mulai keringat dingin.
Diksa gak menjawab. Pandangannya mengunci bibir Hazel yang sedikit terbuka karena nafasnya yang memburu. Perlahan, satu tangan Diksa naik, ibu jarinya mengusap sudut bibir Hazel dengan tekanan yang pelan tapi tegas.
"Gue gak suka dibohongin, Zel," bisik Diksa. Suaranya rendah, kedengaran seksi tapi sekaligus bikin merinding di saat yang sama. "Tadi pas lo nyerahin jaket, gue gak cuma nyium bau asap di kainnya. Tapi di sini juga..." Ibu jari Diksa menekan bibir bawah Hazel sampai sedikit turun, mengekspos bagian dalamnya yang kemerahan.
Jantung Hazel rasanya mau copot dari tempatnya. Kebohongannya runtuh dalam sekali gertak. "Gue cuma... cuma nyoba sebatang doang tadi pas anak-anak lagi sibuk bongkar motor sumpah cuma satu, Dik—"
Ucapan Hazel terputus total.Diksa gak memberi ruang untuk pembelaan lebih lanjut. Cowok berkemeja tidur rapi itu langsung merunduk, membungkam belatuk kata Hazel dengan ciuman yang langsung menuntut. Gak ada aba-aba, gak ada kelembutan formal kayak citra the golden boy yang biasa dia pamerkan di depan para dosen.
"Mmhh—Dikh..." Hazel melenguh protes. Tangannya memukul-mukul bahu Diksa, berusaha mencari celah buat meraup oksigen.
Tapi Diksa justru semakin merapatkan tubuh mereka. Tangan panjangnya berpindah ke pinggang Hazel, menarik cowok itu mendekat sampai tubuh mereka gak menyisakan jarak sama sekali di atas kasur. Ciuman Diksa semakin dalam, menghisap dan sesekali menggigit bibir bawah Hazel gemas, seolah menyalurkan rasa posesif yang selama ini harus dia tahan rapat-rapat kalau mereka lagi berpapasan di koridor kampus.
Hazel yang awalnya memberontak, perlahan kehabisan napas. Kekuatannya merosot begitu saja. Tangannya yang tadi memukul dada Diksa kini beralih meremas piyama mahal cowok itu, pasrah mengikuti permainan brutal yang sialnya selalu berhasil membuat Hazel lemas tak berdaya.
Ketika Diksa akhirnya menarik diri, Hazel langsung terengah-engah, meraup udara sebanyak-banyaknya dengan wajah yang sudah merah padam sampai ke telinga. Bibirnya kelihatan basah, sedikit bengkak, dan memerah akibat ulah Diksa yang gak kira-kira.
Diksa menatap hasil karyanya dengan senyum puas yang sangat tipis. Jari telunjuknya mengusap sisa basah di bibir Hazel. "Nah, bener kan. Masih berasa rasa mint campur tembakau."
"DIKSA ANJING! SAKIT BEGO!" Hazel berteriak tertahan, melempar bantal di sampingnya tepat ke muka Diksa. Tenaga reognya udah balik, tapi mukanya gak bisa bohong kalau dia sedang super duper salah tingkah. "Gue bilang gak usah pakai gigit! Bibir gue bengkak lagi besok bangsat."
Diksa dengan mudah menangkap bantal yang dilempar Hazel, menjatuhkannya ke lantai tanpa mengalihkan pandangan dari cowok di depannya. Bukannya menjauh atau kapok setelah diamuk, Diksa malah kembali memajukan wajahnya.
Chup.
Satu kecupan singkat namun dalam kembali mendarat di bibir Hazel yang sudah memerah. Bukan ciuman menuntut yang memburu nafas seperti tadi, kali ini hanya sebuah kecupan manis yang justru sukses membuat seluruh tubuh Hazel mendadak kaku dan meremang.
Diksa menjauhkan wajahnya hanya beberapa sentimeter, menatap Hazel dengan pandangan teduh yang berbanding terbalik dengan aksi brutalnya beberapa menit lalu.
"Jangan dibiasa in ngomong kasar, Hazel," bisik Diksa rendah, ibu jarinya bergerak mengusap pipi Hazel yang terasa panas. "Mulutnya disekolahin tinggi-tinggi cuma buat ngomong kayak gitu?"
Hazel mendelik, dadanya naik turun menahan emosi sekaligus debaran jantung yang makin gak karuan. "Ya lagian lo—"
"Gue apa?" potong Diksa santai. Tanpa berdosa, cowok itu langsung merebahkan tubuhnya di sebelah Hazel, menarik selimut tebal milik Hazel seolah kamar itu adalah kamarnya sendiri. "Udah, tidur. Besok lo ada kelas jam 8, kan?"
Hazel mencibir, tapi dia tidak punya tenaga lagi buat berdebat. Dengan gerakan menghentak, dia ikut merebahkan diri, sengaja memunggungi Diksa karena mukanya bener-bener sudah sewarna kepiting rebus.
Namun baru juga memejamkan mata, sebuah tangan kokoh melingkar di pinggang Hazel dari belakang. Diksa menarik tubuh Hazel tanpa opsi penolakan, memaksa punggung Hazel menempel erat pada dada bidangnya.
Hazel sempat menegang, bersiap untuk protes lagi. Tapi kehangatan tubuh Diksa dan wangi sabun mahalnya yang menenangkan perlahan-lahan membuat rasa kantuk Hazel kembali datang menyerang dengan hebat. Pada akhirnya, Hazel hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan posesif sang Golden Boy.
Besok pagi, begitu matahari terbit dan mereka menginjakkan kaki di koridor kampus, mereka akan kembali menjadi dua orang asing yang berada di kasta berbeda. Bumi dan langit yang bahkan tidak akan sudi untuk saling melirik.
Tapi malam ini, di dalam kamar yang terkunci rapat, tidak ada si anak bisnis yang sempurna maupun si anak mesin yang nakal. Cuma ada Diksa, dan Hazel-nya.